Selasa, 29 November 2016

Asal Kamu Tahu

Wanita itu aneh. Mereka memiliki indra perasa yang lebih tajam dibanding indra lainnya. Bahkan, indra mereka terlalu tajam sampai-sampai melukai dirinya sendiri. Wanita itu makhluk misterius. Yang entah kenapa populasinya terus bertambah dari waktu ke waktu. Yang membuat hal-hal ganjil muncul diantara kegenapan-kegenapan yang ada. Iya, wanita itu memang lucu! Mereka selalu membuat teori yang benar menurut kaumnya sendiri, namun tidak bisa disalahkan oleh kaum yang lain. Memang, wanita itu semaunya sendiri. Ingin diperhatikan, ingin dicari, ingin dikejar. Namun, mereka selalu sok bertindak elegan. Sudah jelas, bahwa wanita adalah pendusta yang ulung. Dia suka, tapi berlagak benci. Dia perhatian, tapi sok tidak peduli. Dia tahu, tapi selalu bersembunyi di dalam perahu. Dia sadar, tapi berpura-pura tegar. Walau lubuk hatinya porak-poranda, yang membuat air laut bermuara diujung matanya. Tak bisa dipungkiri, wanita adalah makhluk yang plinplan. Dengan angkuh ia berlari agar dikejar, pada akhirnya dia yang menyesal. Karena telah mengabaikan, karena telah meninggalkan. Hingga akhirnya ia hanya bisa diam dan meratapi ke-sok angkuhan-nya. Hanya bisa mengintipnya dari sela-sela selambu jendela. Hanya bisa memandangnya beranjak pergi tanpa mengucap sepatah kata. Hanya bisa menahan segala rindu yang terus mencekik tenggorokannya.

Namun, kamu harus ingat. Wanita adalah makhluk yang lembut. Kelembutannya diungkapkan dengan cara yang mungkin bagimu kasar. Kepeduliannya ditunjukkan dengan cara yang kontradiktif dengan orang kebanyakan. Kamu juga harus tau, wanita itu makhluk yang penyayang. Dia selalu kasihan melihat dirimu didzalimi. Dia tak pernah tega untuk benar-benar meninggalkanmu sendiri. Kamu juga harus paham, wanita adalah makhluk yang tulus. Ia tulus memberi, tak peduli bagaimana reaksimu, tak peduli kamu balik memberi atau malah beranjak pergi. Ia tidak mengharap lebih, walaupun seolah-olah kamu membalas perhatiannya, walaupun kelihatannya kamu menanggapi setiap gerak-geriknya.

Satu hal yang harus kamu mengerti, wanita tidak meminta tanggapanmu, tidak memohon sikap ramahmu, apalagi mengemis balasanmu. Wanita hanya butuh satu, kepastian. Kepastian akan sikapmu, atas segala tanggapan-tanggapanmu, atas segala ucapan-ucapanmu. Agar ia tak ragu menentukan sikap. Agar ia tak gelisah mengambil langkah. Agar ia bisa segera pergi dengan tenang, tanpa beban.

Teruntuk kamu, yang nampaknya belum tahu jawaban atas sesuatu yang seharusnya kamu tanyakan.


Surabaya, pagi hari.
29 November 2016.
Share:

Sabtu, 26 November 2016

Introspeksi

Ketika mata tertutup oleh tebalnya kabut,
dan hati seperti kosong tak berisi
dan tubuh seakan diselimuti dingin yang tak kunjung henti.
Disaat itulah akan disadari,
bahwa wudhu akan menjernihkan pandang,
bahwa doa akan mengenyahkan sepi,
bahwa sujud akan mendatangkan tentram.



Brebes.
1 Juli 2016.
Share:

Badai di Malam Hari

Bagai ranting di pepohonan.
Yang terombang-ambing oleh ketidakpastian.
Harapan hidupnya hanya ranting lain yang menyangga, pikirnya.
Namun, sang ranting dengan angkuh melepaskan pegangannya.
Meninggalkan luka, menimbulkan air mata.

Ketika keinginan tak sesuai dengan kenyataan, rasanya semua harapan melebur menjadi abu di tungku pembakaran.
Telanjur berhenti, telanjur memutuskan untuk menyudahi.
Padahal bisa jadi, angin yang semula ditakuti akan pergi.
Dan ranting yang sudah pergi akan kembali.
Walau itu hanya imaji,
Walau itu sebatas mimpi.

Sekarang, melanjutkan hidup adalah keputusan terbaik,
dan teguh pendirian adalah suatu keharusan.
Agar tak rapuh ketika badai datang,
agar tak runtuh jika hujan jatuh.
Sekeras apapun kenangan berembus,
sehebat apapun perasaan mengombang-ambing,
bertahan adalah pilihan terakhir yang harus dilakukan.
Meski hati terus menjerit,
dan sesak semakin menghimpit,
dan sakit selalu melilit.
Namun, matahari akan segera terbit.
Bangkit, do it.

Brebes.
Juni 2016.
Share:

Senin, 21 November 2016

Menyapa Yang Lama Hilang

Apa kabar kamu? Lama tak jumpa. Ketika ku ketuk pintu rumahmu, banyak sekali sarang laba-laba di sudut tembok. Aku jadi prihatin, apa yang sedang terjadi denganmu? Sampai-sampai kau tak sempat mengurus rumah cantik nan anggunmu ini. Aku gelisah, kamu tidak dalam keadaan baik-baik saja. Oh, tidak! Ada piring pecah di dapurmu. Wajan dan spatula juga masih bertengger diatas kompor gasmu. Bumbu dapur berceceran dimana-mana. Ada apa gerangan dengan dirimu? Tunggu dulu, ada satu yang aneh. Tempat tidurmu terlihat begitu rapi tanpa cacat sedikitpun. Bantalmu masih harum, lantai kamarmu dingin, mukenah dan sajadahmu juga tersusun indah di sudut kasurmu.

Kamu baik-baik saja?


Surabaya, ba’da Dzuhur
21 November 2016
Share: