Rabu, 13 Juli 2016

FILOSOFI KETUPAT

Siapa sih yang gak kenal ketupat? Salah satu makanan khas yang sudah mendunia se-antero jagat raya (lebay) yang banyak ditemukan di hari raya baik idul fitri maupun idul adha. Disini, saya gak akan membahas panjang lebar dikali panjang diagonal-diagonal *apaan sih han* tentang sejarah dan asal-usul ketupat. Kalo masih penasaran silakan aja googling atau tanya eyang-eyang kalian yang hidup di zaman Kerajaan Demak tepatnya abad ke-15. Kalo males googling, yaudah lanjutin baca postingan ini aja ya sampe abis *haha*.

Pada umumnya, ketupat itu berbentuk layang-layang, bukan ketupat(?). Ini beneran. Mungkin kebanyakan orang menganggap bahwa bentuknya ketupat itu ya ketupat atau lebih familiar kalo saya katakan seperti bentuk wajik. No guys, it’s literally wrong. Coba sekarang saya tanya, pernah liat ketupat yang panjang diagonal-diagonalnya sama? Yang menurut teori matematika kalo ketupat/wajik itu panjang diagonalnya sama, pernah gak? Gak pernah kan. Ketupat-ketupat yang sering kita lihat di mall-mall yang bentuknya terlihat seperti ketupat itu juga gak literally ketupat, diagonalya pasti gak sama plek plek (?), gak perfectly bentuk ketupat. Karena emang di dunia ini gak ada yang sempurna hahaha.

Udah bosen? Tenang-tenang. Kali ini bakalan bahas sesuai dengan judulnya: FILOSOFI KETUPAT. Jenis-jenis ketupat beda-beda antara daerah satu dengan lainnya. Walaupun berbeda-beda, tapi tetap sama bahan-bahannya:
1. Daun kelapa/janur
Kenapa janur yang dipakai? Karena kalo kita pake pita kaya ketupat yang di mall-mall entar gak bisa menahan betapa beratnya beras *seberat apasih beras*. Janur sendiri usut punya usut berasal dari kata jatining nur yang artinya hati nurani. Ketupat aja punya hati nurani, masa kamu enggak?
2. Beras
Yha, kalo gak pake beras mau pake apa? Ketan? Mahal. Udah, beras paling cocok deh pokoknya *maksa*. Dan beras ini dipilih juga sebagai simbol nafsu duniawi.
3. Anyaman
Sebenarnya ini bukan bahan sih, tapi ciri khasnya ketupat. Karena bukan ketupat namanya kalo gak dianyam. Dan anyaman ini menyimbolkan bahwa dunia itu kadang di atas, kadang di bawah, persis anyaman yang silih berganti menindih dan ditindih. Selain itu, anyaman yang terlihat mudah namun cenderung sulit itu menyimbolkan betapa ribet dan riweuhnya kehidupan, banyak tantangan dan halangan yang harus dilewati, hingga akhirnya mempertemukan ujung janur yang kanan dan kiri.

Screenshoot. Terima kasih kamu.

Kesimpulannya adalah ketupat melambangkan nafsu dunia yang dibungkus dengan hati nurani, dimana dengan payah dan banyak godaan yang mengusik hati harus kita lewati untuk mencapai satu tujuan, satu kemenangan yakni idul fitri. Setelah jatuh dan bangun membendung nafsu duniawi, menerjang badai menembus ombak (?), akhirnya kita merayakan kemenangan umat Islam pada tanggal 1 Syawal. Masya Allah.

Selain itu, ketupat ini mengajarkan kita untuk bersabar. Karena menganyam janur menjadi bentuk layang-layang tidak semudah menghabiskannya. Harus sabar, sabar, dan sabar. Karena yang kita hadapi adalah benda mati, tidak punya perasaan. Kadang ngadepin orang yang punya perasaan aja susah kan? :’). Kita juga harus konsentrasi dan pantang menyerah. Walau janurnya kadang suka suwewew, tapi kita harus tetep mengendalikan janurnya. Jangan sampe janur yang mengendalikan kita *azeek*.

Dan yang paling penting, ketupat itu mengajarkan kita untuk selalu bersabar dalam ekspedisi bertemu jodoh. Kita harus melewati jalan yang berliku-liku, gak jarang bertemu jalan buntu, harus mundur dan mencari jalan baru, hingga akhirnya bertemu dengan doi yang sudah disiapkan Allah sejak dulu :)). Haha.

Terima kasih udah baca sampe akhir. Walaupun rada gak jelas cenderung absurd, tapi insya Allah bermanfaat ya buat mengisi kelonggaran waktu kalian. Dan postingan ini saya buat mengacu pada foto yang diupload oleh salah seorang di instagram, dengan sebelumnya sebuah inspirasi menulis gara-gara abis bikin ketupat yang membutuhkan waktu 3 menit untuk satu ketupat, membanggakan :’).

Brebes, sore hari.
13 Juli 2016.


Share:

0 Comment: